KEMIRI KOPONG

Jawa, khususnya Banyumas, mengajarkan pemahaman tentang budaya yang sedemikian tinggi semenjak usia kanak-kanak.  Metode yang digunakanpun telah disesuaikan dengan kemampuan usia perkembangan anak.

Pada tulisan mengupas pemahaman budaya luhur melalui dolanan bocah yang pertama ini, kami memilih sebuah dolanan khas Banyumas – KEMIRI KOPONG.

Permainan ini dilakukan oleh empat anak yang bergandengan tangan satu sama lain membentuk lingkaran. Secara bersamaan, semua anak bergeser ke samping dengan gerakan yang semakin cepat, sampai akhirnya masing-masing anak terlempar karena pegangan tangan terlepas.

Selama permainan tersebut, mereka melantunkan lagu dalam bahasa Banyumasan, sebagai berikut:

….kemiri-kemiri kopong, kebaraten leang-leong,adhededen-adhededen………………

Permainan di atas adalah salah satu permainan yang menjelaskan tentang pemahaman dasar atas jati diri manusia.

Empat anak yang membentuk lingkaran merupakan simbol dari empat nafsu yang melekat dalam diri manusia.  Gerak melingkar menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Seringkali manusia tidak mampu mengendalikan hidupnya, karena tergerak oleh nafsu.  Semakin hidupnya tidak terkendali, semakin kehidupan akan mudah menjadi berantakan.  Hal ini digambarkan oleh terlepasnya genggaman keempat anak tersebut ketika putaran semakin cepat.

Semakin kuat genggaman semakin sulit untuk terlepas, yang berarti bahwa semakin seorang manusia mampu mengendalikan keempat nafsu yang melekat pada dirinya, semakin manusia tersebut mampu menata kehidupannya.

Kemiri-kemiri kopong (kemiri tidak berbiji) menggambarkan manusia yang tidak memiliki prinsip, tidak memiliki kebijakan moral, tidak memiliki kebijakan spiritual, sekaligus tidak memiliki kebijakan spiritual tinggi.

Kebaraten leang-leong (terhembus angin kencang, terombang-ambing) menggambarkan kehidupan manusia dengan karakter kemiri kopong akan terombang-ambing, tidak mampu memandang kehidupan secara utuh dan tidak akan mampu menemukan kebenaran, sehingga pada akhir hidupnya-pun dia mendasarkan segala sesuatu pada perkiraan yang dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Dari hal tersebut di atas, kita dapat melihat betapa semenjak dahulu, nenek moyang telah membekali manusia-manusia baru dengan pemahaman akan nilai kehidupan yang sangat tinggi, dan melalui contoh yang sangat rasional sehingga terhindar dari dogma dan pemaksaan pemahaman.

-PASEDULURAN DEGLE -